SHORT TRIP TO ACEH : Ketika Selembar Hijab Dipertanyakan

Ini adalah perjalanan hari ketiga setelah Pulau Weh. Kebetulan saya adalah salah satu kru film dokumenter, yang diberi mandat untuk bertugas ke luar pulau yaitu Pulau Sumatra, untuk menyusuri 70% daerah-daerah yang ada di Sumatra. Setelah menyusuri beberapa tempat-tempat indah di Pulau Weh, perjalanan berlanjut menuju kota Serambi Mekkah, Banda Aceh.

Pertama kali saya menginjakkan kaki di Aceh, hampir semua mata menyorot terbelalak ke arah saya. Why? Sebab, pakaian yang saya kenakan tidak sama seperti yang mereka pakai. “Emangnya kamu ke Aceh pake pakaian seksi, Mik?” No, bukan itu maksud saya. Saya selalu memakai pakaian sopan : celana panjang, sepatu kats, kaos biasa dan menggendong tas ransel.

Seperti julukannya “Kota Serambi Mekkah“, yang mana seluruh wanita di Aceh adalah wajib mengenakan busana Muslim. Begitulah yang dikatakan oleh mas Aris, salah satu anggota komunitas motor di Aceh yaitu POWER ACEH (Pulsar Owner), yang saat itu mereka menjadi pengawal perjalanan saya selama di Aceh. Saya benar-benar tidak tahu informasi bahwa di Aceh memang begitu hukumnya. Seandainya saya tahu, sebagai kaum non-Muslim yang berbudaya, pasti saya akan menghargai hukum dan adat mereka. Bukan berarti saya juga harus berpakaian muslim, tetapi setidaknya saya bisa membawa kerudung atau pasmina.

Banda Aceh mendeklarasikan diri sebagai destinasi wisata Islam Dunia, lantaran Aceh memiliki sejarah yang panjang dalam penegakkan Syariah Islam. Di Aceh berbeda dengan di Jawa maupun pulau lainnya dalam berpakaian Muslim. Kalau di Aceh bukan hal yang aneh sepertinya ketika seorang wanita mengenakan hijab/kerudung namun dengan pakaian lengan pendek atau tiga perempat. Saya banyak menjumpai subyek serupa ketika berada di Aceh. Untung saja, warga di Aceh memaklumi keberadaan saya sebagai orang asing yang tidak mengetahui hal semacam ini.

MUSEUM TSUNAMI ACEH

Ketika orang mendengar nama Aceh, yang selalu terlintas dalam pikiran mereka adalah Tsunami. Begitupun dengan saya, destinasi utama saya disini adalah Museum Tsunami Aceh. “Mengapa tidak ke Masjid Raya Baiturrahman?” Ya karena kembali ke pasal 1 tadi, saya tidak bisa kesana karena kondisi pakaian.

museum tsunami 3

Dari depan, bangunan museum ini benar-benar memiliki arsitektur keren, yang mana arsiteknya adalah Kang Emil atau Mochamad Ridwan Kamil, Walikota Bandung. Dan begitu saya masuk ke dalam melalui lorong sempit dan gelap di antara dua dinding air yang tinggi serta lantunan ayat-ayat Al-Quran, saya benar-benar takut. Ini merupakan gambaran dari suasana dan kepanikan saat tsunami. Saya benar-benar hanyut ke dalam suasana seluruh ruangan ini. Jangankan saya, Kang Emil saja menangis kala mendesain Museum Tsunami Aceh.

Beberapa foto tidak bisa saya posting, sebab banyak gambar yang gelap dan hasilnya tidak bagus.

The Light of God. Disebut juga sebagai Ruangan Penentuan Nasib, disini tertera ribuan nama korban jiwa di dinding.

museumtsunami12

Dan di puncak kerucut terdapat penutup tembus cahaya dengan tulisan huruf Arab “Allah”.

the-light-of-god

Museum ini diresmikan oleh mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 23 Februari 2008. Dan Museum Tsunami merupakan kebanggaan warga Aceh.

NIKMATI MIE ACEH DAN SECANGKIR SANGER

Pertama kali saya menginjakkan kaki di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, sebelum perjalanan ke Pulau Weh, saya langsung dibawa ke sebuah kantor pemerintahan di Banda Aceh, tak jauh dari lokasi Museum Tsunami. Staff kantor benar-benar ramah dan tidak mendiskriminasi saya lantaran saya tidak berhijab.

Saya disuguhi Mie Aceh yang mereka beli entah dimana, wah…benar-benar seperti tamu istimewa saya ini. Mereka sangat tahu isi hati saya yang ingin sekali mencicipi Mie Aceh asli dari Aceh hahaa! Mie Aceh adalah mie dengan kuah kare, di dalamnya ada topping seafood, dilengkapi dengan mentimun dan kerupuk emping. Karena rasanya tidak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata, jadi…silakan kalian datang ke Aceh dan mencobanya sendiri yaa. Selera orang kan beda-beda guys 🙂

mie-aceh-sanger

Teman-teman dari komunitas motor POWER Aceh (Pulsar Owner) membawa saya ke sebuah kedai kopi dan memperkenalkan Sanger Aceh ke saya. Sanger Aceh merupakan minuman ramuan khas Aceh yang sangat digemari warga, yaitu perpaduan antara kopi, susu kental dan gula, jadi sudah bisa dibayangkan ya gimana rasanya? Minuman ini bikin mata melek setelah semalaman saya begadang gegara menyelesaikan pekerjaan.

Selesai mencicipi Sanger, dalam perjalanan dari Banda Aceh ke Sigli, saya pun dibawa mereka ke sebuah warung makan yang sederhana tapi saya lupa ya apa nama warungnya. Itu warung ada di Banda Aceh, letaknya ada di jalur arah mau ke Sigli. Banyak sekali makanan yang kami pesan disini, dan nama menu yang paling saya ingat adalah “Ayam Tsunami” (gambar sebelah kanan). Ayam Tsunami disebut juga dengan nama Ayam Tangkap, yaitu masakan khas Aceh, terbuat dari ayam yang digoreng dengan tambahan bumbu dan rempah-rempah yang khas, serta daun kari, daun pandan dan daun salam koja. Tampilan warung makan ini sangat biasa, tapi begitu mencicipi makanan-makanan yang ada disini, asli…nggak pengen pergi!! Maunya habisin semua itu makanan sampai warungnya tutup. LOL. Rasanya gurih banget dan nagih!

Aceh merupakan satu-satunya wilayah yang menerapkan Perda Syariat Islam di Indonesia. Sebagai pemimpin perempuan, Illiza Sa’aduddin Djamal, Walikota Banda Aceh, tetap berpegang pada pengamalan Syariat Islam yang kafah (total). Illiza mencoba mengangkat isu kesetaraan perempuan pada masa kepemimpinannya sekarang. Yakni memberikan kesempatan bagi perempuan untuk ikut partisipasi dalam ranah publik dan perlindungan anak. Namun, yang paling utama, adalah pelaksanaan Syariat Islam yang menjadi dasar kuat pembangunan masyarakat Banda Aceh.

Bagaimana, tertarik untuk ke Serambi Mekkah? Segera siapkan ranselmu kawan!

6 thoughts on “SHORT TRIP TO ACEH : Ketika Selembar Hijab Dipertanyakan

  1. Saya punya banyak teman dari Aceh yang kebetulan ada yang sebelumnya teman kerja dan juga teman-teman hangout. Saat saya tanyakan soal pakaian bahwa mereka harus menutup semuanya seperti memakai jilbab, mereka dengan enteng bilang, “Tidak harus, kok Mas”. Yang penting sopan. 🙂

    Like

    • wah, ternyata pendapat dari beberapa orang Aceh sendiri berbeda-beda yaa. sedangkan teman-teman yg saya temui di Aceh waktu itu sedikit bercerita : Aceh kan punya Syariat Islam, disini cewek-cewek yang beragama Islam memang wajib memakai jilbab. Kalo yang non-Muslim yaa gak pake jilbab, yang penting berpakaian sopan. Lagipula mereka tau kok kalo kamu turis disini..” **haha**
      hehee, mungkin jawabannya tergantung dari orang yang kita tanyai kali ya kakk? yang penting sopan, udah aman pasti wkwkwk

      Like

      • Hehe… Itulah. Rasanya media yang sering membuat kita jadi merumuskan penilaian sendiri, padahal belum tentu dan mungkin tidak semuanya begitu. Tapi, dimanapun, dimana bumi dipijak, di situlah langit sudah sebaiknya dijunjung.

        Like

        • Maklum mas, media nyari untung…bukan nyari temen wkwkwk. Setiap pekerjaan pasti memiliki ‘kebreng*ekan’nya masing-masing. Tuulll bangett…menghormati wilayah setempat 🙂

          Like

  2. gimana ya…sebagai muslim pun yang boleh dibilang masih awam ini, kadang rancu juga sih, karena terpaksa, mengenakan penutup kepala sekenanya, saya masih menjumpai orang yang pakai kerudung namun memakai lengan pendek dan celana pendek, entah wanita yang saya lihat ini sengaja memakai kerudung untuk menutupi sesuatu di kepalanya atau apalah saya kurang tahu persisnya, tapi style dia ya seperti itu dari waktu ke waktu : )

    Like

Terima Kasih Sudah Berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s