24 Jam Terbaik di Jogja : UNESCO World Heritage Sites

JOGJA NEVER ENDING ASIA

Begitulah tagline Jogja selama sekitar 14 tahun, yang kemudian berubah menjadi “Jogja Istimewa” pada 7 Maret 2015 setelah melewati beberapa kontroversi. Jogja terkenal akan wisata seni dan budaya nya, dan beberapa tahun terakhir ini banyak tempat-tempat wisata modern mulai bermunculan. Tempat-tempat yang instagramable atau tempat wisata hits, atau tempat wisata kekinian. Namun, apakah keberadaan tempat wisata kekinian telah menggeser kedudukan tempat wisata sejarah di Jogja?

Tentu tidak, tempat wisata sejarah tak kehilangan pengunjungnya, apalagi dari waktu ke waktu banyak wisatawan mancanegara pun memburunya. Pada postingan 24 Jam Terbaik di Jogja ini saya ingin menceritakan pengalaman ke salah satu destinasi UNESCO World Heritage Sites yang ada di Yogjakarta dan Magelang.

🌅  HELLO BOROBUDUR, HELLO SUNRISE!

Terbangun menjelang pagi buta itu ibarat hampir bersin tapi tiba-tiba dikagetin. Gak enak banget! Apalagi kondisi Jogja pagi buta itu sedang gerimis, membuat raga ini enggan tersentuh air setetespun (baca: takut mandi) LOL. Ketika sedang bersiap-siap, muncul sebuah pesan di Whatsapp.

“Mbak, saya tunggu di halaman belakang. Jangan kelamaan dandan yaa”, begitulah pesan Whatsapp dari Pak Sukir, seorang driver kocak yang sudah siap mengantar perjalanan pagi buta ke Magelang.

Perjalanan dari Bantul Jogja ke Magelang saat itu hanya ditempuh selama 1 jam meskipun gerimis menerpa. Saya tidak melihat seberapa kencangnya dia melajukan mobil itu, karena saya hanya bobo cantik setelah makan roti dan minum teh. Mobil memasuki gerbang Candi Borobudur yang berada di sebelah hotel Manohara, dan kami digiring pihak yang berwenang melalui akses khusus. Katakanlah akses VIP. Bukan ditangkap karena tampang kita mencurigakan, tapi karena saya merupakan salah satu tamu istimewa di Candi Borobudur pagi itu. Ehmm..suombong! LOL.

borobudur-sunrise-6

Gerimis pun tak kunjung reda, tapi saya tetap nekat menaiki candi setingkat demi setingkat dengan menggunakan senter karena langit belum begitu terang sekitar pukul 04.40. Mencari spot terbaik untuk membidik panorama sunrise di Candi Borobudur yang merupakan candi Buddha terbesar di dunia. Ternyata sudah banyak wisatawan asing yang berada di bagian teratas candi. Karena kondisi cuaca yang cukup buruk ini, saya tidak berekspektasi akan melihat sunrise. Tak lama setelah berada diatas, gerimis mulai reda. Sebuah cahaya berwarna merah orange muncul perlahan diantara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu sekitar pukul 05.20. Voila! Momen sunrise yang ditunggu-tunggu datang juga. Maklum bok, ini pengalaman pertama seumur hidup nge-sunrise di sini. Kalau bukan gara-gara pekerjaan, saya mungkin tidak kesana, karena tiketnya cukup mahal. LOL.

borobudur-sunrise-5

Udara pagi yang dingin namun sejuk, sekumpulan kabut diantara celah-celah bukit dengan foreground candi dan stupa, dengan backsound suara burung-burung, membuat suasana di candi ini semakin dramatis. Meski saya bukan fotografer handal, tapi saya tak bosan untuk memotret kesana kemari sambil mengelilingi stupa. Bukan untuk selfie, tapi memotret lanskap. LOL.

borobudur-sunrise-2

borobudur-sunrise-3

Sunrise tak berlangsung lama, namun saya sangat puas bisa menghabiskan sunrise di Candi Borobudur. Beberapa staff candi mengantar saya ke sebuah taman kecil di belakang untuk menikmati kopi dan beberapa snacks. Saya juga diberi sebuah cinderamata dari Candi Borobudur, yaitu scraft warna merah dengan gambar Candi Borobudur.

Oh yaa, karena harga tiket Borobudur Sunrise terbilang mahal untuk kita-kita turis lokal, ada cara lain yang lebih murah untuk menikmati sunrise dengan obyek candi Borobudur, yaitu di Punthuk Setumbu. Kamu bisa mendapatkan lanskap yang nggak kalah dramatis seperti karya fotografi dari mas Alfian Widiantono di bawah ini.

borobudur dari punthuk setumbu
photo by Alfian Widiantono

Jika kamu tertarik untuk mendapatkan pengalaman menikmati Borobudur Sunrise, itu artinya kamu harus bangun pagi-pagi dan berangkat dari Jogja pukul 03.00. Namun untuk menghemat waktu dan memperpanjang jatah jam tidurmu, kamu bisa menginap di hotel-hotel sekitar Borobudur. Sedangkan bagi para tamu yang menginap di Hotel Manohara (satu-satunya hotel yang berada di dalam kompleks Candi Borobudur), mereka mendapatkan potongan harga tiket Borobudur Sunrise.

 


INFORMASI TIKET

DEWASA/ADULT
Asing/Foreigner : IDR 450.000 per person
Lokal/Domestic : IDR 325.000 per person
In house guest (who staying at Manohara) : IDR 275.000 per person

ANAK-ANAK/CHILDREN
Asing/Foreigner : IDR 225.000 per person
Lokal/Domestic : IDR 162.500 per person
In house guest (who staying at Manohara) : IDR 137.500 per person

* harga tiket hingga Desember 2017
* Sudah termasuk teh / kopi, snacks, akses masuk Candi Borobudur dari jam 4.30 pagi (untuk umum dibuka pukul 06.00)
* Tiket bisa dibeli langsung di loket dan tidak ada batasan jumlah tamu


🎥  SPEKTAKULER RAMAYANA BALLET PRAMBANAN

Sore harinya Pak Sukir mengantar saya ke Candi Prambanan, sebuah candi Hindu terbesar di Indonesia. Sayangnya tidak banyak mengeksplor Candi Prambanan, tiba-tiba Jogja diguyur hujan mulai pukul 5 sore itu. Karena pertunjukan Ramayana Ballet akan dimulai pukul 19.30, jadi kami memutuskan untuk berteduh di pos satpam Candi Prambanan, kemudian lanjut ke Rama Shinta Garden Resto.

prambanan-temple

Pukul 18.00 hujan semakin deras, hingga pukul 19.30 tak kunjung reda. Saya sibuk bertanya kepada pihak manajemen Ramayana Ballet, karena khawatir pertunjukkan ini dibatalkan lantaran kondisi cuaca yang sangat tidak bersahabat. Awalnya pertunjukkan ini dialihkan ke panggung tertutup, yaitu di Gedung Trimurti, supaya para tamu tetap bisa menyaksikan pertunjukan Ramayana Ballet. Saya sedikit kecewa mendengar kabar ini. Menurut saya, Ramayana Ballet itu akan lebih menarik kalau dilaksanakan di panggung terbuka karena lebih menyatu dengan alam dan Candi Prambanan.

Ramayana Ballet juga dikenal dengan sebutan Sendratari Ramayana. Pertama kali diselenggarakan pada tahun 1961, yang mana gagasan pertunjukkan tersebut berawal dari ide GPH Djatikoesoemo, dengan tujuan untuk meningkatkan pariwisata Indonesia di mata dunia. Sendratari Ramayana merupakan gabungan antara seni drama dan seni tari khas Jawa tanpa dialog yang diselenggarakan di sebuah panggung terbuka dengan latar belakang Candi Prambanan. Lebih dari 200 penari profesional dan musisi lokal berpartisipasi dalam memeriahkan pertunjukkan cerita Ramayana berdasarkan epos Hindu yang diadaptasi dengan budaya Jawa. Panggung terbuka ini berukuran besar dan bisa menampung lebih dari 1000 penonton.

ramayana-ballet-prambanan-jogja

Sebuah mukjizat terjadi. LOL. Pada pukul 20.00 hujan deras berganti menjadi gerimis tipis. Pada akhirnya, pertunjukan dilaksanakan di panggung terbuka. Background Candi Prambanan yang disorot dengan lampu LED, alunan musik gamelan dan gerak gemulai para penari Jawa profesional, dan tata cahaya diatas panggung yang diatur sedramatis mungkin, membuat saya merinding menyaksikan tontonan luar biasa ini. Dan lagi, ini merupakan pengalaman pertama saya seumur hidup. LOL.

Sendratari Ramayana menceritakan kisah tentang usaha Rama dalam menyelamatkan Shinta yang diculik oleh Rahwana. Sebuah cerita yang diwarnai asmara dan pertarungan yang tertuang dalam relief Candi Siwa. Karena saya mengidolakan sosok Hanoman – si kera putih yang lincah dan cerdik – jadi adegan cerita yang paling berkesan bagi saya adalah di puncak adegan Hanoman Obong. Sebuah adegan dimana Hanoman (utusan Rama) dihukum dengan cara dibakar hidup-hidup atas perintah Rahwana, karena ketahuan menyelamatkan Shinta. Namun Hanoman ditahtai kekuatan supranatural dari Dewa Siwa, sehingga ia tidak mati dari kobaran api. Sebaliknya, ia dapat meloloskan diri dari kerumunan api, dan kemudian membakar habis kota Alengka. Seperti yang tertuang dalam cuplikan video Ramayana Ballet saya dibawah ini yang berdurasi 40 detik.

Ramayana Ballet Prambanan rutin dilaksanakan setiap hari Selasa, Kamis dan Sabtu, pukul 19.30 hingga 21.00 WIB. Tiket pertunjukan Sendratari Ramayana dibagi menjadi 4 kelas, yaitu : Kelas 2, Kelas 1, Kelas Spesial, dan Kelas VIP. Saran saya, lebih enak ambil yang Kelas Spesial dan pilih kursi di baris 1 atau 2. Tiket dapat dibeli dengan cara reservasi maupun on the spot. Namun alangkah baiknya kalau booking beberapa hari sebelumnya supaya tidak kehabisan tiket. Waktu booking, informasikan juga mengenai tempat duduk yang kamu inginkan.


INFORMASI TIKET

tiket-resmi-ramayana-ballet-prambanan

* harga tiket 2017

denah panggung ramayana ballet prambanan
source information

Mengunjungi UNESCO World Heritage Sites atau Situs Warisan Dunia UNESCO adalah pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Bisa menikmati Borobudur Sunrise dan Ramayana Ballet Prambanan sekaligus. Ini adalah 24 jam terbaik saya di Jogja, meskipun 24 jam bukanlah sebuah kurun waktu yang dapat memuaskan saya selama di kota gudeg ini. Jogja terlalu banyak tempat-tempat unik dan tersembunyi lainnya untuk dikunjungi suatu saat. Meski kini Jogja tak senyaman dan seaman seperti sedia kala, namun inilah tanah yang selalu menciptakan kerinduan yang mendalam. Ini adalah salah satu bukti bahwa Jogja memang Istimewa.

 

Heavy Rock Backpacking!

backpackeraddict

4 thoughts on “24 Jam Terbaik di Jogja : UNESCO World Heritage Sites

Terima Kasih Sudah Berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s