Pengalaman Buruk Liburan di Jepang

Berlibur ke Jepang tanpa tahu Nihongo (Bahasa Jepang) itu TIDAK MUDAH.

Bisa dikatakan, Jepang merupakan tempat yang sangat nyaman untuk backpacking. Meskipun saya juga masih bisa merasakan repot selama liburan di Jepang untuk 10 hari. Setibanya pesawat LCC Air Asia X di Bandara Haneda Tokyo, sekitar pukul 22.30, semua berjalan begitu lancar termasuk saat melewati bagian Imigrasi, Baggage Claim, Custom Inspection, dan Arrival Lobby. Bahagia banget pastinya! Namun, pengalaman buruk liburan di Jepang justru jatuh di hari pertama. Kebahagiaan dan kesialan menjadi perpaduan yang sempurna.

Dompet warna merah yang hilang telah merenggut keceriaan saya! Mantep banget dah! Menangis adalah tindakan yang manusiawi, tapi apakah dengan menangis pouch saya bakal balik? Enggak kan? Kehilangan barang pribadi saat backpacking menjadi ketakutan terbesar setiap backpacker, entah itu hilangnya karena kelupaan, jatuh saat dalam perjalanan, dan bahkan penjambretan. Ketika barang-barang itu hilang atau dicuri, secara reflek pasti dong kita panik. Lebih menegangkan daripada kehilangan barang di rumah. Kalau hilangnya di rumah, ada kemungkinan ditemukan suatu saat. Nah, tapi kalau hilangannya di negara orang dan nggak ketemu? Yaa berarti just say goodbye forever.

LOST IN TRANSLATION

Berlibur ke Jepang tanpa tahu Nihongo (bahasa Jepang) itu TIDAK MUDAH. Ini memang fakta bahwa bahasa Jepang nggak seperti bahasa yang menggunakan alfabet Romawi. Sebagai backpacker, saya tidak bisa begitu saja mengetik kata-kata yang tertulis di papan petunjuk itu ke dalam aplikasi terjemahan. Bahasa menjadi kendala utama dalam menyelesaikan kasus ini. LOL. Sungguh-sungguh membuat ribet, apalagi Keisatsu/Polisi tidak bisa speaking English dan saya yang payah ini tidak mahir bahasa Jepang. Tingkat bahasa Inggris disana relatif rendah dari kebanyakan orang Jepang asli. Barangkali banyak backpacker yang berpikir bahwa orang-orang kota lebih jago bahasa Inggris. Don’t too expect, bahkan di tengah-tengah kota Tokyo saja kita bisa terjebak karena masalah bahasa lho. Belum lagi kalau kita keluar dari kota, masih banyak nama yang tertulis di papan-papan di stasiun kereta maupun petunjuk lokasi wisata tidak mencantumkan bahasa Inggris, dan juga menu book yang isinya benar-benar 100% sandi morse. LOL.

haneda-airport-tokyo-japan

Berbahagia diatas penderitaan diri sendiri lebih mulia daripada berbahagia diatas penderitaan orang lain. — backpackeraddict.com

Jadi, kegiatan tengah malam hari pertama di Jepang adalah bolak-balik ke information centre, dan lapor ke pos polisi di Haneda Airport yang ada diluar, dekat pintu masuk. Kalau di Indonesia, semacam Polsek. Di pos polisi, kasus ini cuma muter-muter aja. Dia sudah tahu bahwa saya orang Indonesia, tapi yaa tetap ditanya dalam bahasa Jepang mengenai barang saya yang hilang ini.

“Haii!! (*@&#^&%#^%$%$%@$%#…??” tanya si bapak Keisatsu yang putih sipit nan kecil.

“Emm, sumimasen. Wakarimasen deshita…” jawab saya dengan ragu-ragu, soalnya nggak paham grammar Jepangnya. Niatnya yaa mau bilang “Maaf, saya tidak mengerti apa yang Anda bicarakan.”

Kemudian dia menyodorkan sebuah kertas tebal besar ukuran A2 yang sudah dilaminating, dimana terdapat gambar, bahasa Jepang, dan terjemahan bahasa Inggris. Jadi disitu ada beberapa gambar ilustrasi, seperti kecopetan, dompet jatuh, seseorang menemukan barang, dan kasus-kasus seputar dunia kepolisian. Kemudian saya menunjuk gambar ibu-ibu yang dompet warna merahnya jatuh.

Karena Pak polisi menyadari bahwa dia juga tidak bisa Bahasa Inggris, maka dia menelepon rekannya yang polisi juga. Dibantu sama Roberto yang ngomong Inggrisnya lebih bagus daripada saya. Saya seperti menonton film komedi. Roberto bicara pake Inggris, lalu polisi yang ditelpon menjelaskan pada polisi bandara dengan bahasa Jepang. Polisi bandara ngomong bahasa Jepang ke rekannya, lalu rekannya ngomong/tanya sama Roberto, dan Roberto menyampaikan/bertanya ke saya. Begitu terus siklus rantai makanannya. LOL. Lalu saya ditanya mengenai warna dompet, ukuran dompet, bahan dompet, dan isinya apa saja. Setelah semua saya jawab, Keisatsu meberikan sebuah kertas semacam surat rekomendasi untuk mencari Surat Kehilangan di kantor polisi.

MEMAKSA DIRI UNTUK IKHLAS DAN RILEKS

Selain diminta untuk mendatangi Lost and Found, saya disuruh datang dan lapor ke kantor polisi di Tokyo keesokan harinya. Hal yang mustahil, karena besok paginya kami berangkat ke Hakodate, sedangkan kantor polisi terdekat baru buka jam 8 – 9 seingat saya. Tet tott! Berasa seperti mau gantung diri malam itu. Saya coba untuk menenangkan diri, berdoa mohon supaya ikhlas. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak ke kantor polisi keesokan harinya. Kasihan kalau harus mengorbankan keceriaan teman-teman hanya untuk kepentingan pribadi saya. Untunglah teman-teman menghibur dan mereka care saat dompet saya hilang.

Saya mencoba duduk sejenak, berusaha rileks sembari ikhlas, dan mengingat-ingat lagi dimana terakhir kali pouch merah itu saya pegang. Tapi nggak ketemu juga hasilnya. Semua surat-surat penting ada di dalam pouch tersebut. Teman-teman berusaha untuk mencari, membantu mengingat dan ada juga yang memarahi saya wkwkwk. Jadi mau nangis banget!

Ikhlas..yaa hanya bisa ikhlas. Mungkin kata “ikhlas” tersebut mudah sekali untuk diucapkan. Padahal, saya yang mengalami kejadian buruk ini begitu susah untuk menenangkan diri. Saya masih bisa senyum dan bercanda kok. Saya masih bersyukur karena bisa memanfaatkan aplikasi Whatsapp untuk menelepon ke bapak di rumah, menceritakan kejadian ini, dan meminta tolong bapak untuk membantu blokir semua kartu-kartu saya. Saya semakin terharu, ketika bapak ingin mengirimi saya sejumlah uang ke salah satu ATM travelmates saya yang bisa dipakai, supaya saya tetap bisa menikmati liburan. Bapak juga berusaha menghibur agar saya tidak boleh sedih.

“Yaa udah, ikhlaskan aja dek. Harus tetap senang yaa. Masa udah jauh-jauh liburan ke Jepang malah sedih? Anggap aja uang yang ilang itu adalah uang pajak kamu masuk ke Jepang.”

Malam pertama tidur di lobby Airport yang luas, bersih, dan cukup nyaman dengan kursi panjang, dengan perpaduan suasana hati yang mengenaskan. Special thanks buat Berto yang sudah saya bangunkan tidur nyenyaknya cuma untuk menemani keliling Airport, bagian informasi dan pos Polisi sampai jam 2 malam, demi mencari dompet yang hilang. Besar upahmu di Sorga, Nak! Amen.

TUHAN MENURUNKAN MUKJIZAT NYA

Pagi itu, apa yang membuat saya menjadi lebih ikhlas dan sangat bersyukur adalah uang yen ¥ tidak saya masukkan ke dompet yang hilang. Orang pertama yang menemukan uang yen saya adalah Rara, ketika dia saya beri amplop dan kaget begitu dia tahu di dalam amplop ada ratusan juta yen saya. LOL. gak ding,, cuma dikit kok hehee. Huraay! Ini pasti bukan kebetulan. Ini pasti karena mukjizat Tuhan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Saya menaruh uang ¥ tersebut di sebuah amplop dan jadi satu dengan tiket JRPass yang akan diaktifkan pagi itu.

MENGURUS SURAT KEHILANGAN DI KANTOR POLISI MINAMI, OSAKA ( 南警察署 )

Sekitar di hari ke-6, di train station Osaka kami bertemu sahabat dari Om Kamal (travelmate) yang tinggal disana, yaitu om Agus Nawi Shagir. Om Agus seharusnya menghabiskan nostalgia bersama om Kamal saat bereka berjanjian untuk bersua melepas rindu sebagai sahabat. Tapi karena ke-apes-an saya, om Agus harus repot-repot membantu mengurus surat kehilangan saya ke Kantor Polisi. Sejak ia hadir ditengah-tengah liburan kami, masalah surat kehilangan menjadi lekas selesai, berkat bahasa Jepang om Agus yang udah khatam. Thanks Om Agus! Tuhan memberkatimu selalu!

Di Kantor Polisi Minami, Osaka, banyak saya lihat orang Jepang keluar masuk, baik mengambil barang yang hilang maupun menyerahkan barang yang mereka temukan. Jangankan dompet, handphone pun ada disini lho. Sehingga saya berpikir, betapa jujurnya orang Jepang.

“Orang Jepang itu jujur, nggak mau ngambil. Kalau dia nemu barang yang bukan miliknya, dilaporkan ke polisi setempat, atau Lost and Found.”

“Apa karena dia nggak butuh barang itu, Om?”

“Bukan, bukan itu! Mereka berpikir : orang yang kehilangan barang tersebut pasti bakal mengalami kesusahan. Barang itu pasti sangat berarti untuk orang yang kehilangan. Tuh lihat, handphone aja bisa balik kan?” jelas Om Agus sambil menunjuk ke arah seorang wanita yang sedang mengambil handphone nya yang hilang.

declaration-letter
my declaration letter

Dengan dua mata saya sendiri, ada juga yang mengambil dompet, bahkan ada yang menyerahkan flasdisk lho. Flashdisk!!! Gila kan? Kalo di negara kita, seringnya sih udah diembat habis. Hari itu saya diminta kantor polisi untuk mengisi form lengkap, dan tak lupa saya juga meminta surat kehilangan dari kepolisian guna mengurus dokumen-dokumen penting saat kembali ke Indonesia.

Surat kehilangan tidak bisa jadi pada hari yang sama, karenanya pihak kepolisian meminta saya untuk kembali lagi keesokan harinya untuk mengambil Surat Kehilangan. Keesokan hari adalah hari terakhir saya di Jepang, berakhir di Osaka. Pagi-pagi jam 7 saya ditemani Roy dan Berto ambil Surat Kehilangan di Minami Police Office, yang isi suratnya diketik dengan sandi-sandi morse. Saya sangat terburu-buru, karena jam 11 siang sudah harus berangkat ke Kansai Airport. Sudah terburu-buru, kami masih harus kesasar lagi, dan membuang waktu setengah jam. OMG!

*   *   *

Backpacking bersama teman-teman tidak selalu berjalan mulus. Pro dan kontra itu pasti akan kita jumpai. Tapi kesetiakawanan adalah nilai tinggi yang tak bisa diukur dengan penggaris. Dari pengalaman buruk liburan di Jepang ini, saya mendapatkan pelajaran yang sangat berharga, pelajaran agar selalu waspada dan tidak teledor, pelajaran tentang arti kebersamaan dan kesetiakawanan.  Akhirnya, pengalaman buruk itu berubah menjadi pengalaman yang indah bagi saya. Sebab, begitu saya tiba di Bali dari Jepang, saya cek email dan rupanya ada pesan dari AirAsia X yang ada di Bandara Haneda yang isinya begini :

email-AirAsiaX-Jepang-Haneda

Owalah, kok yaa nggak dari kemarin saya buka pas pertama tiba di Jepang!!

Heavy Rock Backpacking!

backpackeraddict

6 thoughts on “Pengalaman Buruk Liburan di Jepang

  1. Halo kak, makasih udah sharing ya.
    Emang serem sih, asli kalo kemana-mana apa lagi ke luar negeri, udah mah backpackeran, eh amit2 sampe kehilangan dompet. Aduh, aku juga pasti moodnya bakal langsung rusak.

    Ditambah lagi kendala bahasa di sana, engga semua paham bahasa Inggris.
    Tapi untungnya ketinggalan di pesawat ya, yg penting tetep teliti dan jaga barang bawaan.

    Keep traveling, kak! 😊

    Like

Terima Kasih Sudah Berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s