Persiapan Praktis Backpacking 10 Hari ke Jepang, Apa Aja?

“Kamu harus punya banyak duit kalau mau traveling ke Jepang,” kata orang sok tau. Kalimat semacam itu kerap bikin parno seseorang, bahkan sampai berhasil bikin mereka mulai mundur teratur dari impian jalan-jalan ke Jepang. Buat manteman yang ngebet banget pengen traveling ke Jepang, jangan pernah ciut nyalinya dengan kalimat itu. Kalian juga bisa kok ke Jepang dengan budget hemat seperti saya dan teman-teman lainnya. Nggak usah buru-buru gegara orang-orang pada berlomba-lomba ke Jepang juga, toh nggak bakal dapat nilai di dunia akherat kok. *pa’an sih!* Mudah-mudahan postingan ini bisa membuatmu semakin  bersemangat untuk mewujudkan impian traveling ke Jepang.

Karena sejatinya traveling itu bukan ajang perlombaan atau pamer, melainkan ajang pembelajaran mental dan karakter. ~ BakcpackerAdict.

Pengalaman saya pertama kali ngetrip ke luar negeri yaitu ke Jepang, walaupun sebelumnya saya mampir dulu di Kuala Lumpur untuk satu malam. Mengapa saya pilih Jepang sebagai destinasi pertama traveling ke luar negeri? Biasanya, negara yang pertama kali dikunjungi sebagian besar orang Indonesia adalah Singapura atau lebih kerennya Singapore, mengingat wilayahnya lebih dekat dengan Indonesia dan harga tiket pesawat yang masih terjangkau. Kenapa sih pertama kali harus Jepang? Yaa karena saya nggak pengen sama kayak kebanyakan orang. Itu aja. Nah, buat yang kebetulan punya rencana ke Singapore dalam waktu dekat ini, silakan baca juga pengalaman saya yang sebagian solo traveling ke Singapore DISINI.

Jepang adalah negara impian yang pengen banget saya kunjungi sejak masih duduk di bangku kuliah! Mungkin kamu juga? Adat dan kebudayaan Jepang memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan Singapore, Malaysia, Korea atau negara manapun selain Indonesia. Itu menurut saya pribadi, karena setiap orang punya sudut pandang yang berbeda, dan setiap negara/daerah memiliki ciri khas masing-masing. Hal itulah yang membuat saya ingin sekali melihat dan merasakan langsung seperti apa dan bagaimana sih negara Jepang itu? Sayangnya, impian itu baru terwujud setelah saya 3 tahun bekerja dan hampir menginjak usia kepala tiga. Kacian!

Jepang memang negara mahal, saya akui. Tapi tidak semahal yang saya bayangkan sebelumnya loh ternyata. Saya ngetrip dengan metode yang hemat-hemat aja biar tetap bisa bayar kost dan hidup enak di Bali. Tentunya, semua itu saya persiapkan jauh-jauh bulan dengan matang, bahkan 1 tahun sebelum berangkat. Ahh…dari tadi banyakan cing cong, lu! Okee..oke…kita langsung to the point aja, ini dia yang saya persiapkan untuk backpacking 10 hari di Jepang.

✈  Mencari Jodoh

Bukan dalam arti yang sesungguhnya. Ini maksudnya adalah cari travel mates. Saya sendiri cari lewat situs BPI (Backpacker Indonesia), yaitu sebuah forum bertemunya para backpackers dan pecinta jalan-jalan dari berbagai daerah di Indonesia. BPI juga menjadi sarana untuk berbagi informasi dan mencari teman jalan atau rencana perjalanan. Waktu itu masih jarang banget lho ada thread ajakan ke Jepang, karena 2015 masih gencar-gencarnya ajakan trip ke negara-negara Indochina. Begitu bulan Maret 2015 saya lihat ada thread “Share Cost Musim Semi ke Jepang Mei 2016”, langsung saya ‘sepik’ itu TS nya. ‘Sepik’ yang seperti apa, itu hanya saya, dia dan Tuhan yang tahu. Buat yang belum tahu dan penasaran sama forum Backpacker Indonesia, langsung cus aja ke backpackerindonesia dot com.

✈  Berburu Tiket Promo

AirAsia!!! Ini maskapai juara banget, sering ngadain promo-promo terbang hemat ke luar negeri. Karena saya beli tiket eceran, jadi tidak semua tiket yang saya dapatkan itu harga promo. Mengapa eceran? Karena selisihnya bisa sampai 100 ribu hingga 200 ribu dari tiket penerbangan direct. Lumayan kan. Tiket ecerannya seperti ini : DPS – KUL, KUL-HND (berangkat) & KIX-KUL, KUL-DPS (pulang).

Promo-Tiket-ke-Jepang

Keberangkatan tanpa bagasi, pulangnya sharing bagasi sama travel mate saya. Sebagai akibat dari tiket eceran, saya dapat penerbangan pulang dari OSAKA – KLIA 2 malam hari, dan penerbangan KLIA 2 – Denpasar baru keesokan harinya. Jadi, mau nggak mau saya mengikuti tradisi para sebagian backpacker yang ada KLIA 2, yaitu “tradisi tidur ngemper.

ngemper-di-KLIA-2
* Dhiyan, Saya, Rara, ngemper di KLIA 2 *

✈  Ijin ke Orang Tua

Seberapa penting memasukkan ‘ijin orang tua’ ke daftar persiapan ini?? PENTING BANGET TAU!! Walaupun saya agak curang, tapi wajib hukumnya minta ijin sama ortu. Saya sengaja beli tiket dulu, baru kemudian minta ijin. Seandainya ijin dulu tanpa beli tiket, pasti nggak dibolehin. Walau kami jauh – saya di Bali dan ortu di Jogja – namun kemanapun saya pergi ngetrip atau tugas ke luar kota, pasti meminta ijin mereka. Tanya sendiri kalau nggak percaya. LOL. Restu dari ortu adalah sebuah doa, ketika mereka mengijinkan artina mereka mendoakan supaya perjalanan kita lancar dan kembali dengan selamat. Amin.

✈  Menabung

Yang pasti saya gendutin tabungan selama hampir setahun biar pengajuan visa nya diterima Kedutaan, soalnya saya harus punya saldo setidaknya 25 juta di 3 bulan terakhir sebagai syarat pengurusan visa. Dengan begitu akan terlihat dengan rapi progres tabungannya. Jadi, gak ada lagi tuh istilah ‘dana siluman’, alias yang tadinya 500ribu tiba-tiba jadi 25 juta di tiga bulan terakhir saat akan mengajukan visa. Kemungkinan besar bisa ditolak Kedutaan. Kenapa syaratnya harus punya saldo 25 juta? Penjelasan selengkapnya sudah ada di postingan sebelumnya, bisa baca DISINI.

✈  Bikin Paspor

Nah, ini nih. Kalau mau ke luar negeri syarat utama WAJIB HUKUMNYA punya paspor. Kalau belum punya paspor berarti nggak bisa bikin visa. Saya bikin paspor online baru 5 bulan sebelum pergi ke Jepang. Ternyata gampang banget, tinggal isi semua formulir lengkap, lalu buat jadwal interview ke Kantor Imigrasi Denpasar, datang ke Kanim, wawancara, foto deh. Besoknya, selang 4 harian tinggal diambil. Jadi deh!

✈  Riset, Itinerary dan Booking Hotel

Karena waktu itu saya masih newbie dalam dunia backpacker, jadi saya sungkan untuk mengungkapkan pendapat ke para travel mates. Takut dikira sok pinter dan takut salah, pasalnya kan saya belum punya pengalaman backpacking sama sekali saat itu. So, saya ngikut aja, manut! Kebetulan itinerary sudah dibuat oleh Bernhard, pemilik thread sharing cost di BPI itu. Untuk hotel, kami pesan di booking.com. Tipe dan fasilitas kamar yang kami pilih yaitu : dormitory room (asrama), no breakfast (tanpa sarapan)free cancelation (pembatalan GRATIS), dan no prepayment needed (tanpa uang muka). Cari yang rates nya bersahabat dan kualitasnya yang nggak buruk-buruk amat.

✈  Melengkapi dokumen-dokumen

Dokumen-dokumen yang saya persiapkan tak lain hal nya adalah untuk keperluan mengurus visa. Semakin lengkap dokumen yang kita punya, semakin mudah pula dalam urusan pengajuan visa. Syarat pengajuan visa Jepang dan dokumen-dokumen yang dibutuhkan, bisa baca postingan saya sebelumnya DISINI.

✈  Pengajuan Visa

Kita tidak bisa sembarangan apply visa ke Japan Embassy, karena tiap Embassy memiliki wilayah yurisdiksi. Wilayah yurisdiksi adalah wilayah berlakunya sebuah undang-undang berdasarkan hukum.

Saya kan tinggal di Bali, sedangkan KTP saya yaitu Yogyakarta. Jadi, saya hanya bisa apply ke embassy Jakarta. Busettt!! Jadi ente bolak balik Bali-Jakarta buat urus visa doang, Mik?? Hellooo..yaa enggak lah, gitu aja kok repot amat. Kalau dibela-belain ngurus ke Jakarta, yang ada jatah cuti ku ilang banyak dong. Nggak maoo!!

Saya cuma karyawan yang nggak punya banyak waktu, jadi saya memilih travel agent di Jakarta yang jam terbangnya sudah bagus banget di Indonesia, untuk bantu apply. Mudah, cepat, dan murah.

✈  Beli JR Pass 7 Days Ordinary

Begitu visa Jepang approved dan jatuh ke genggaman saya, dengan hepi saya meluncur ke H.I.S Denpasar untuk membeli JR Pass 7 Days Ordinary. Harga JR Pass atau Japan Rail Pass itu aduhay bangett – 29.110 yen atau IDR 3.45 juta -, kalau cuma untuk beli bensin mah sisa banyak, bisa dipake buat mandi! Tapi ada baiknya sih, karena jika kami tanpa JR Pass barangkali bakal merogoh yen lebih banyak lagi untuk transportasi selama 10 hari.

Japan-Rail-Pass-JR-Pass-7-Days-Ordinary

Alasan membeli JR Pass adalah penghematan budget dan efisiensi waktu, karena kita bakal naik kereta tercepat di Jepang. Puji Tuhan, saya diberi kesempatan backpacking ke Jepang naik kereta express Shinkansen sebelum saya menghembuskan nafas terakhir. Harga JR Pass untuk 7 hari dari masa ke masa tidak berubah, yaitu di angka 29.110 yen, yang selalu berubah adalah kurs. Oh ya, jangan beli JR Pass kalau visa belum keluar.

✈  Tukar mata uang

Mata uang Jepang adalah Yen. Saran saya, selain tukar mata uang ¥, tukarkan juga dalam mata uang USD buat jaga-jaga kalau yen kita habis saat di Jepang. Tukarnya di Indonesia saja supaya nggak repot dan nggak menghabiskan waktu di Jepang. Untuk perjalanan 10 hari, saya bawa 70.000 yen (kurs 120) dan 150 USD (kurs 13.200). Pulang ke Indonesia masih sisa kurang lebih 20.000-an yen. Waaww…banyaak!! Sebenernya bisa sisa 40.000-an yen kalau saya nggak beli oleh-oleh buat keluarga di Jogja.

Saya berburu ¥ ke money changer yang berbeda di Bali, yaitu di Money EXChange Sunset Road dan di PM Money Changer Ubud (dekat kantor). Saya sempat menyesal waktu kurs 1 Yen = 117 Rupiah di bulan Maret, saya tidak langsung beli gegara terlalu yakin kalau Yen bakal turun. Eh, menjelang April kurs makin melonjak dari 117 naik ke 122 dan turun lagi jadi 120 hahaa sial oh sial!

uang-yen-jepang-persiapan-ke-jepang

Di Money EXChange Sunset Road ini, biasanya hanya menyediakan pecahan 10000 Yen dan 5000 yen, atau setara dengan 1,2 juta rupiah dan 600ribu rupiah. Sayangnya saya mendapatkan yang 10000 Yen, dag dig dug der. Satu lembar ilang, habislah awak!

Apa saja sih yang saya bawa untuk liburan 10 hari ke Jepang?

Nggak banyak, karena saya nggak beli bagasi pesawat dan cuma bawa daypack. Semua saya persiapkan 3 hari sebelum keberangkatan. Saya pergi di musim semi yang sebenarnya nggak butuh jaket-jaket tebal sehingga akan memakan ruang tas, apalagi saya hanya mengandalkan bagasi kabin maksimal 7 kg. Jadi yang saya bawa juga seperlunya aja, seperti :

  • Tas daypack 30L
  • celana panjang (bukan jeans, biar nggak berat)
  • sweater
  • cassual blazer
  • kaos tangan (kepake banget waktu di Hakodate)
  • underwear
  • perlengkapan mandi minimalis
  • sandal outdoor, sepatu, dan kaos kaki
  • obat-obatan, termasuk kebutuhan wanita (jaga-jaga)
  • pelembab muka dan lip balm (WAJIB! Karena kulit bakal kering dan bersisik di tempat dingin selama 10 hari)
  • mantel tipis yang harga 5 ribuan (kepake banget, Kyoto waktu itu diguyur ujan)
  • botol minum 1.5 liter (mantep kan?)
  • folding bag / tas lipat (buat jalan-jalan)

Itulah gambaran umum persiapan saya waktu kemarin nge-trip ke Jepang. Jika dari daftar di atas ada yang kurang, silakan tambahkan di kolom komentar yaa. Kalo persiapan kalian sendiri gimana? Apakah lebih simpel atau justru lebih ribet daripada persiapan saya? Hehee!

 

Heavy Rock Backpacking!

backpackeraddict

Author: BackpackerAddict | Miki

backpacker • travel blogger Indonesia • video editor • personal travel photographer

18 thoughts

  1. Jepang memang relatif mahal, tapi ada kartu pass untuk jalan dan lokasi wisata yang hematnya bisa lebih dari 60%, misal JR pass, Osaka pass, Tokyo day pass. Yang susah dihemat itu hotel dan tiket pesawat.

    Liked by 1 person

      1. Ya, belum sempat coba yang hostel. Kalau private room gitu mahal, dapet paling murah 850 ribu/mlm di Osaka. Pas di Tokyo karena kesalahan teknis kartu kredit, pesanan online yg 850 ribu/malam dibatalkan. Akhirnya bayar yg go show, 1,5 jt/malam untuk kamar klo di Indonesia sekelas bintang 3. Alamak mahalnya. Harga segitu mah di Indonesia sudah dapat hotel bintang 5. Gpp deh, daripada kedinginan ngemper di jalan. Iya, taman/lingkungannya juga instagrammable, baru pas masuk wahana (museum, akuarium, perahu dll)baru bayar.

        Like

      2. Wedeeew…1.5jt itu bisa buat jatah makan saya di Jepang 7 hari wkwkwk. Tapi kebutuhan masing2 sih yaa mau nginep dimana ajaa. Kalo saya karna jalan dari pagi n pulang malem, jadi pilih hostel yang murmer 200ribuan, buat numpang tidur n mandi doang..LOL.
        Trus btw nginep berapa hari tuh 1.5jt / per malam nya?

        Like

      3. 2 malam saja, kalau kelamaan sayang duitnya. Kalau berangkat sendiri mungkin kepikir nginep di hostel seperti waktu ke Melbourne/Sydney tahun lalu, tapi kalau dg keluarga terpaksa di private room/hotel. Ya, semoga ada rejekinya lagi. Amin.

        Like

      4. 100 an yen tapi kalo beli satu nggak kenyang yaa kak hihihii. Biasanya ke Lawson pagi beli onigiri sebiji udah bisa ganjal perut.

        wahh asyik diaa udah ke Melbourne. Nanti saya intip deh tulisan Melbourne nyaa kakk.. 🙂

        Like

  2. Wih boleh nih infonya. Kebetulan September depan kesini 😀
    Salam kenal semua, izin blog walking :))

    Like

  3. Gue udah pengen ke Jepang sejak duduk di bangku… sekolah dasar. Anaknya keracunan manga sama anime soalnya. Tapi di penghujung usia kepala 2 ini pun belum jelas kapan bisa ke sana, huhuhu.

    Anaknya nggak becus nabung, hahaha. Sementara kerjaan masih gini-gini aja.

    Like

      1. bahahaha amiiinnn. semoga ada rejeki dari situ buat ke Jepang ya. aku lagi ikutan lomba dari Fun Japan & JAL. Kalo nggak keberatan, boleh like / share / comment status terbaruku di facebook.com/Nugisuke 😀

        Like

Terima Kasih Sudah Berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s